Perempuan, Pita dan Sepatu
Nak.
Perempuan kecil.
Dengan pita di sepatu seukuranmu.
—————–
21 Maret 2010
Derai tawa.
Langit mendung terasa ringan.
Nak.
Perempuan kecil.
Dengan pita di sepatu seukuranmu.
—————–
21 Maret 2010
Derai tawa.
Langit mendung terasa ringan.
Nak
Jaga budi pekerti.
——————
20 Maret 2010
Aku dan sulung.
Pada pekarangan yang dikelilingi kerikil putih.
Hanya mendengar suara darah sendiri
mengalir cepat menyebrang pembuluh.
—————–
18 Maret 2010
Hening.
Ia masih memanggilku lesbian.
Nak…
Seseorang sesekelmu.
Aku menyorongkan setumpuk buku padanya.
Ia langsung memeluk dan mengatakan,
“thank you auntie.”
—————–
18 Maret2010
Kangenku terobati.
Bungsu
Kesayangan Allah…
Cahaya iman di kepalamu…
——————-
15 Maret 2010
Aku melihat yang sama saat siuman usai melahirkanmu.
Sulung
Nak.
Pada malam-malam terjaga.
Kidung dzikir akhirya menidurkanku.
———————-
12 Maret 2010
Bungsu.
Kapan mau berhenti menjadi lesbian?
——————-
10 Maret 2010
Paling lambat ketika mentari berhenti
sore di puncak bukit timur.
Emang ada tombol on-off-nya ya?
Nak…
Semut melintas, menyeret serpihan roti
yang lebih berat dari badannya sendiri.
————–
10 Maret 2010
Sekuat itukah kamu?
Bungsu.
Pelukan beruangmu.
Menyepuh cinta pada-Nya.
—————–
8 Maret 2010
Sulung.
Nak.
Aku sudah menuliskan namamu di dinding baru.
————-
8 Maret 2010
Bungsu.